Abstrak
ABSTRAK Karya ilmiah dalam bentuk skripsi ini berjudul “Analisis Efektivitas Pentahelix Dalam Pengembangan Destinasi Wisata Sarasah Sitalang, Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam” yang disusun oleh Nurul Aulianisa dengan NIM 3521006, Mahasiswa Program Studi Pariwisata Syariah S1, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Dibawah Bimbingan Bapak Cahya Agung Mulyana, S.T., MPPar. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena distribusi kunjungan wisata di kabupaten agam yang tidak merata akibat masih banyaknya tantangan yang dihadapi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih holistik dan kolaboratif untuk mewujudkan destinasi wisata yang tidak hanya menarik tetapi juga berkelanjutan seperti penerapan konsep pentahelix. Penelitian ini mengkaji efektivitas model Pentahelix dalam pengembangan Destinasi Wisata Sarasah Sitalang, Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam, serta mengidentifikasi faktorfaktor yang memengaruhi kolaborasi antar pemangku kepentingan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologis, dimana data yang diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan unsur pentahelix (pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media). Analisis data dilakukan menggunakan model analisis interaktif yakni Reduksi Data (Data Reduction), Penyajian Data (Data Display), Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi (Conclusion Drawing and Verification) yang berpedoman pada indikator efektivitas pemangku kepentingan dari teori Freeman (stakeholder approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun seluruh aktor Pentahelix telah terlibat, kolaborasi yang terbangun belum optimal. Partisipasi pemangku kepentingan belum merata dan masih didominasi oleh pemerintah dan kelompok sadar wisata, sementara peran akademisi, pelaku usaha, media, dan masyarakat luas masih terbatas dan bersifat insidental. Lemahnya koordinasi dan sinergi, rendahnya tingkat kepuasan pemangku kepentingan, terbatasnya legitimasi dan kepercayaan publik, belum terjaminnya keberlanjutan program, serta belum optimalnya penciptaan nilai bersama menjadi kendala utama. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan kapasitas sumber daya manusia, lemahnya komitmen pemangku kepentingan, minimnya mekanisme koordinasi, keterbatasan sumber daya dan infrastruktur, serta belum adanya perencanaan jangka panjang yang terintegrasi. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan kapasitas dan peran pemangku kepentingan, peningkatan koordinasi yang berkelanjutan, serta penyusunan perencanaan strategis yang inklusif dan berorientasi jangka panjang guna meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan penerapan model Pentahelix.