Lewati ke konten utama
Beranda / Publikasi / Thesis
ThesisOpen AccessTerbit 2026Versi 1

Konsep Ittibā’ Al-Hawā Dalam Al-Qur’an (Studi Maudhū’ī Perspektif Mufassir Kontemporer)

Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir•Ilmu Al Qur'an dan Tafsir•7 dilihat · 4 unduhan

Abstrak

Nurfauqanur Afri, NIM 4122006, Judul skripsi: Konsep Ittibā’ Al-Hawā Dalam Al-Qur’an(Studi Maudhū’ī Perspektif Mufassir Kontemporer), Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Tahun 2026. Al-Qur’an secara tegas mengecam perilaku mengikuti hawa nafsu (ittibā’ al-hawā) sebagai sumber kesesatan spiritual dan kerusakan moral. Dalam konteks kehidupan modern yang sarat dengan godaan materialisme, hedonisme, dan budaya instan, pemahaman mendalam tentang konsep ini menjadi semakin relevan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penafsiran ayat-ayat ittibā’ al-hawā dalam al-Qur’an menurut perspektif tiga mufassir kontemporer, Muhammad Quraish Shihab (Al-Miṣbāḥ), Wahbah al-Zuhaili (Al-Munīr), dan Hasbi Ash-Shiddieqy (Al-Qur’ān al-Majīd an-Nūr) serta mengungkap solusi al-Qur’an terhadap manifestasinya di era kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tafsir tematik (Maudhū’ī) melalui studi kepustakaan. Data primer diambil dari ketiga kitab tafsir tersebut, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku, jurnal, dan sumber ilmiah lainnya. Analisis dilakukan dengan langkah-langkah tematik, penentuan tema, pengumpulan ayat, klasifikasi kandungan. Penyusunan outline, penafsiran ayat, dan penarikan kesimpulan, Hasil penelitian menunjukkan bahwa ittibā’ al-hawā dimaknai sebagai sikap menjadi hawa nafsu sebagai pedoman utama, yang mengabaikan wahyu Allah dan akal sehat. Berdasarkan analisis 15 ayat dalam 13 surah, ditemukan bahwa manifestasi dari ittibā’ al-hawā meliputi: (1) penyimpangan akidah Q.S. Al-Baqarah [2]:120,Al-Maidah [5]:77, Al-An’am [6] :56, Al-Qamar [54] :3, Asy-Syura [42] :15; (2)ketidakadilan hukum dan sosial (Q.S. An-Nisa [4]:135,Shad [38]:26), Al-Maidah [5]:49; (3) gaya hidup materialistik-hedonik (Q.S. Al-A’raf [7]:176, Al-Kahf [18]: 28, Thaha [20]: 16, Al-Qashsash [28]:50, Muhammad [47]:14 ; serta (4) penolakan terhadap syariat Allah (Q.S. Al-Jatsiyah [45]:18, Al-An’am:150). Ketiga mufassir sepakat bahwa perilaku ini merupakan akar dari permasalahan dan kesesatan, kezaliman, dan kerusakan moral. Solusi al-Qur’an yang ditawarkan mencakup: berpegang pada wahyu dan ilmu, menegakkan keadilan, menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs), meningkatkan kesadaran tentang akhirat,dan meneladani kepemimpinan yang adil. Temuan ini relavan dengan tantangan kontemporer seperti budaya flexing, fear of missing out, penyaah gunaan media sosial, korupsi, dan degradasi moral.

Kata kunci

Kata Kunci: Hawa Nafsu, Ittibā’ Al-Hawā, Mufassir Kontemporer, Solusi Al-Qur’an, Tafsir Tematik.

Informasi bibliografis

Versi dan riwayat publik

  1. Versi 1Konsep Ittibā’ Al-Hawā Dalam Al-Qur’an (Studi Maudhū’ī Perspektif Mufassir Kontemporer)2026 · oai:ais:skripsi:19468