Abstrak
Arum Handayani, NIM 4122013 dengan judul skripsi: Karakteristik Manusia dalam Surah Ar-Rūm (Analisis Tafsir fī Zhilālil Qur’ān Karya Sayyid Qutb). Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, 2026 M/1447 H. Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang paling mulia dengan kesempurnaan akal dan hati untuk membedakan yang baik dan yang buruk. Namun kenyataannya, masih ada di antara manusia yang menyimpang dari fitrah tersebut. Oleh karena itu, Al-Qur’an menunjukkan bagaimana seharusnya seseorang dalam berkarakter dan berperilaku, karena karakter adalah lukisan jiwa yang termanifestasi dalam bentuk perilaku. Surah Ar-Rūm membahas secara strategis mengidentifikasi berbagai karakter manusia, baik positif maupun negatif, namun lebih condong pada karakter yang negatif dan masih relevan di era kontemporer. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk menggali makna mendalam tentang karakter manusia dalam Surah Ar-Rūm pada Kitab Tafsir fī Zhilālil Qur’ān. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif, sedangkan jenis penelitian ini adalah library research (kepustakaan). Adapun sumber data primer berupa kitab Tafsir fī Zhilālil Qur’ān karya Sayyid Qutb dan data sekunder dari literatur terkait. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumen, kemudian dianalisis dengan pendekatan tematik (madhū‘ī) dengan mengumpulkan ayat-ayat yang secara kandungannya mengidentifikasi karakteristik manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, ayat-ayat terkait karakteristik manusia yang terdapat dalam Surah Ar-Rūm terletak pada lima ayat yaitu QS. ArRūm [21]: 7, QS. Ar-Rūm [21]: 29, QS. Ar-Rūm [21]: 30, QS. Ar-Rūm [21]: 33, QS. Ar-Rūm [21]: 36. Kelima ayat tersebut menggambarkan karakter manusia diantaranya, lalai dalam kehidupan akhirat, kecenderungan mengikuti hawa nafsu, naluri (tauhid dan karakter) yang bersih, inkonsisten dalam ketaatan kepada Allah, dan putus asa atas rahmat Allah. Penafsiran Sayyid Qutb relevan dengan problematika kehidupan kontemporer, seperti keserakahan materi, korupsi, dan bunuh diri dengan solusi menjadikan akhirat sebagai tolak ukur kehidupan, berpegang teguh pada syariat agama, serta menanamkan rasa syukur dan istiqamah dalam diri sebagai kunci kebahagiaan sejati.