Abstrak
Skripsi berjudul tentang "Analisis Semiotika Metode Dakwah dalam Film Buya Hamka Vol 2". Skripsi ini ditulis oleh Silvia Wulandari dengan NIM 4321007, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Universitas Islam negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Dakwah merupakan upaya untuk mengajak manusia menuju jalan yang di ridhai Allah SWT, dan seiring perkembangan zaman, metode dakwah juga beradaptasi dengan media modern seperti film. Film biografi memiliki potensi besar sebagai media dakwah, terutama jika tokoh yang diangkat adalah seorang pendakwah yang berpengaruh. Film Buya Hamka Vol 2 adalah film biografi yang menceritakan perjuangan Buya Hamka setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan menunjukkan berbagai metode dakwah yang dilakukannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis metode dakwah yang terdapat di dalam Film Buya Hamka Vol 2. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analisis. Metode penelitian menggunakan analisis semiotika model Charles Sanders Peirce dengan segitiga bermakna Representamen atau tanda, Objek, Interpretan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada 15 adegan di dalam Film Buya Hamka Vol 2 menunjukan metode dakwah dengan menerapkan kandungan surah An-nahl 125. Tiga metode dakwah utama yang terdapat dalam film buya hamka vol 2 adalah: pertama metode dakwah Bil Hikmah, digambarkan melalui dakwah bil lisan dengan bentuk berbicara atau diam, mengenal sasaran, mencari titik persamaan, dakwah bil hal dalam bentuk keteladanan, mempertahankan kebenaran atau keyakinan, dan dakwah bil kitabah dalam bentuk pemilihan kata tepat dalam karya tulis. Kedua metode dakwah Mauizah Hasanah, digambarkan dalam dakwah bil lisan dalam bentuk bimbingan dan pengajaran, nasihat, kabar gembira serta melalui dakwah bil hal dan dakwah bil kitabah dalam bentuk nasihat melalui karya tulis. Ketiga metode makwah Mujadalah dengan debat digambarkan melalui dakwah bil lisan, seperti sanggahan Buya Hamka terhadap fitnah dan sikap tenangnya.