Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena krisis ekistensial manusia modern dalam era digital, yang kini dikenal sebagai homo digitalis. ketergantungan pada teknologi digital telah membentuk pola hidup baru yang seringkali mengaburkan makna keberadaan manusia, menjauhkan dari nilai-nilai spiritual, dan menggiring manusia pada validasi semu melalui media digital. Dalam konteks ini, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis eksistensialisme religius Muhammad Iqbal melalui konsep khudi, serta menelaah relevansinya terhadap eksistensi homo digitalis di era digital. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif kepustakaan dengan pendekatan hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer, untuk memahami makna dan kedalaman pemikiran Iqbal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensialisme religius Muhammad Iqbal, yang menekankan pada kesadaran diri (khudi), kebebasan, kreativitas dan orientasi spiritual kepada Tuhan, memberikan landasan filosofis yang kuat dalam membangun eksistensi homo digitalis yang otentik. Melalui khudi, homo digitalis diarahkan untuk tidak sekedar hadir secara digital, tetapi mampu menegakkan eksistensi sejati yang sadar, mandiri, dan berpijak pada nilai-nilai ketuhanan.