Lewati ke konten utama
Beranda / Publikasi / Thesis
ThesisOpen AccessTerbit 2024Versi 1

Studi Living Qur'an Pada Tradisi Ta'ziah Akbar di Desa Muara Basung

Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir•Ilmu Al Qur'an dan Tafsir•8 dilihat · 4 unduhan

Abstrak

ABSTRAK Nama: Farida Ulva Dalimunte, Nim: 4121019 Skripsi ini berjudul “STUDI LIVING QUR’AN PADA TRADISI TA’ZIAH AKBAR DI DESA MUARA BASUNG, BENGKALIS RIAU. Ta’ziah merupakan salah satu tradisi yang tersebar luas di Indonesia. Ta’ziah akbar di Desa Muara Basung ini memiliki beberapa perbedaan dengan ta’ziah pada umumnya dan juga berbeda dengan teks-teks bacaan tahlilan yang tersebar luas di Indonesia. Seperti penamaan dalam tradisi ini yaitu ta’ziah akbar, pemilihan ayat dan surat yang akan dibaca, seperti membaca surah al-Baqarah ayat 153-157. Karena di dalam teks-teks bacaan tahlilan membaca pengantar surat al-Fatihah, surah Yasin, surah al-Ikhlas 3X, surah al-Falaq, surah an-Nas, surah al-Fatihah, surah al-Baqarah 1-5, ayat kursi, istigfar 3X, tahlil 33X, doa tahlil. Dan menjadi keunikan lain dari ta’ziah dan teks-teks tahlilan yang beredar ialah dibacakan secara bergantian di antara ibu-ibu dari rukun warga yang satu dengan yang lainnya. Penelitian ini, merupakan Jenis penulisan yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah penelitian field research (penelitian lapangan) yang menggunakan pendekatan metode kualitatif. Adapun yang dimaksud dengan metode kualitatif adalah ialah metode yang tidak didasari oleh prosedur statistika akan tetapi lebih ke bagaimana peneliti dapat memahami makna dari peristiwa, interaksi, maupun sifat dan perilaku subjek dalam penelitian tersebut, serta dapat mengemukakan atau mengungkapkan fenomena yang terjadi dengan cara mengumpulkan data-data yang didapat dari hasil penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa telah terjadi beberapa dilakukannya revisi pada tahun 2015, 2017, 2022 terhadap tata tertib ketentuan dalam ta’ziah akbar. Dengan menggunakan teori sosiologi pengetahuan dari Peter L. Berger dan Thomas Lucman dapat diketahui bahwa tradisi ta’ziah akbar telah melakukan tiga fase sehingga dikatakan tradisi yaitu fase eksternalisasi, fase objektivitas, dan fase internalisasi. Fase eksternalisasi bermula dari ibu almarhumah sukini yang menjadi pencetus ide diadakannya ta’ziah akbar, fase objektivitas setelah almarhumah mendapat ide untuk melaksanakan ta’ziah akbar maka diadakannya rapat (musyawarah) para ketua setiap kelompok per-wirid-an untuk berdiskusi, fase internalisasi setelah disetujui dalam musyawarah untuk dilaksanakannya ta’ziah akbar maka kegiatan ini terus berlanjut hingga menjadi tradisi. Dengan menggunakan teori sosiologi pengetahuan dari Karl Mannheim, pemaknaan terhadap tradisi ta’ziah akbar dikelompokkan menjadi tiga makna menggunakan tiga makna, yaitu makna objektif, makna ekspresif, dan makna dokumenter. Makna objektif yang terkandung dalam ta’ziah akbar merupakan sebuah tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Muara Basung setiap ada salah satu masyarakat yang meninggal dunia. Makna ekspresif pada diyakini masyarakat dapat menambah pahala dan membantu orang yang terkena musibah. Makna dokumenter dari ta’ziah akbar sebagai pengingat masyarakat bahwa mati tidak mengenal waktu, usia, dan tempat.

Kata kunci

Kata Kunci: Living Qur’an dan ta’ziah akbar.

Informasi bibliografis

Versi dan riwayat publik

  1. Versi 1Studi Living Qur'an Pada Tradisi Ta'ziah Akbar di Desa Muara Basung2024 · oai:ais:skripsi:16661