Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi dengan fenomena yang terjadi di SMA Negeri 2 Bukittinggi, yaitu terdapat beberapa siswa regular yang kurang menerima anak inklusi dari kondisi psikis, sosial dan aspek sosio- emosional, beberapa siswa regular lebih memilih berteman dengan siswa regular lainnya dibandingkan berteman dengan siswa inklusi, terdapat siswa inklusi yang cenderung menarik diri dari lingkungan sosial temannyadan menyibukkan diri pada hal yang dia senangi, terdapat prasangka siswa inklusi tidak mampu belajar dengan baik dan kurang memberikan kontribusi di sekolah layaknya siswa regular lainnya serta adanya siswa inklusi yang sering bertingkah laku berlebihan sehingga membuat teman- teman lainnya merasa risih dan cenderung takut akan tingkahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan siswa inklusi oleh teman sebaya di SMA Negeri 2 Bukittinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang bersifat deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa inklusi yakni kelas XE.1, XE.6, XI.F6, XII MIPA 4, XII IPS 3, XII IPS 4 dan XII Bahasa. Adapun teknik pengambilan sampel yang peneliti gunakan yaitu metode total sampling dengan pengambilan sampel sebesar 25% dari total populasi. Total sampel yang digunakan peneliti dalam penelitian ini berjumlah sebanyak 80 orang siswa di kelas inklusi yakni kelas XE.1, XE.6 dan XI.F6. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket. Analisa data yang digunakan untuk penelitian ini adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat penerimaan teman sebaya yang tergolong tinggi. Hasil ini diperoleh dari data analisis kuantitaif deskriptif dimana persentase keseluruhan dari penerimaan teman sebaya berjumlah 69% dengan rata- rata 30,75 dan standar devisiasi 6, Dimana hal tersebut dapat terlihat bahwasanya di SMA N 2 Bukittinggi memiliki persentase penerimaan yang tergolong tinggi.