Abstrak
Skripsi ini disusun oleh Nopita Indah Sari Nim 4618066, Program Studi sosiologi agama Fakultas Ushuluddin Adab da Dakwah, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi dengan judul “Simbolisasi Tradisi Pabuat Boru Dalam Adat Pernikahan Di Desa Bargottopong Jae Kecamatan Halongonan Kabupaten Padang Lawas Utara” Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya sebuah tradisi dari nenek moyang suku Batak Angkola yang sekarang masih dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat. Pabuat boru adalah tradisi pemberangkatan dan penyerahan pengantin perempuan kepada pengantin laki-laki yang dilaksanakan di rumah pengantin wanita. Tradisi pada pernikahan ini merupakan tradisi yang sangat lazim digunakan oleh masyarakat Angkola. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode penelitian kualitatif yang menekankan pada aspek kedalaman informasi yang diperoleh melalui wawancara dan didukung oleh observasi lapangan. Lokasi penelitian di Desa Bargottopong Jae Kecamatan Halongonan Kabupaten Padang Lawas Utara. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pada tradisi pabuat boru di Desa Bargottopong Jae terdapat beberapa tahapan, adapun tahapannya yaitu tahapan awal (persiapan) yaitu mangaririt (mencari tahu seluk beluk pengantin), manyapai boru (masa pendekatan), padamos hata (mendalami pembicaraan), patobang hata (pelamaran), manulak sere (mengantar mahar). Tahapan pelaksanaan marnikah (menikah), mangupa (memberi semangat), mangandung (pamitan), pabuat boru (pemberangkatan). Tahapan akhir mangolat (menghadang). Adapun simbol yang terkandung dalam tradisi pabuat boru yang pertama manuk jara-jara (ayam betina) sebagai simbol pengharapan kepada pengantin wanita agar memiliki keturunan, ampang marisi dahanon, tolu pira manuk, sonduk (bakul berisi beras, tiga telur ayam, dan sendok) sebagai simbol kegigihan kepada kedua pengantin, lampu camporong (lampu teplok) sebagai simbol penerang kepada kedua pengantin, indahan tukkus pasae robu (nasi yang dibungkus) sebagai simbol penyelesaian adat.