Abstrak
Memasuki abad ke XXI perkembangan hadis semakin pesat, ditambah berdirinya jurusan hadis pada tahun 2014. Dari segi referensi banyak bermunculan buku-buku dari sarjana hadis maupun fikih. Akses terhadap buku-buku tersebut juga semakin mudah, ditambah lagi dengan semakin banyaknya buku-buku berbahasa arab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang membuat proses pembelajaran hadis semakin mudah. Diantara buku-buku tersebut terdapat karya yang ditulis oleh Hanif Luthfi dengan judul Jika dhaif suatu hadis lantas apa?. Dari setiap topik yang dibahas dalam buku ini, ada sebuah sub bab yang membahas tentang hadis dhaif bermakna shahih. Dalam ilmu hadis tidak dikenal istilah dhaif sanad-shahih matan. Penggunaan istilah hadis dhaif bermakna shahih seperti menafikan penelitian terhadap sanad hadis, atau seakan mengisyaratkan kalau ada kekeliruan dalam penelitian sanad sehingga terdapat matan yang shahih dalam sanad yang dhaif. Berdasarkan penjelasan diatas. Rumusan masalah dalam skripsi ini adalah Bagaimana Konsep Hanif Lutfi tentang hadis dhaif dalam bukunya Jika dhaif suatu hadis lantas apa? Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dalam bentuk studi kepustakaan dengan mengumpulkan data langsung dari segala informasi tertulis yang relevan lewat karangan ilmiah, tesis, ensiklopedia, buku tahunan, peraturan-peraturan, ketetapan-ketetapan dan sumber-sumber lain yang terdiri dari sumber data primer dan sumber data sekunder. Metode penelitian yang pakai dalam skripsi ini ialah metode studi tokoh. Berdasarkan analisa penulis, dapat disimpulkan bahwa : 1) Hanif Luthfi menilai adanya kesalahan dalam memahami metodologi hadis dimana orang cengderung berpikiran jika sebuah hadis dhaif dapat dipakai. 2) berkenaan dengan fadhail amal ulama berbeda pendapat tentang apakah hadis dhaif bisa digunakan sebagai fadhail amal atau tidak? Hadis dhaif adalah hadis yang tidak mencapai syarat hadis shahih maupun hasan, dan hadis dhaif tidak sama dengan hadis palsu, sehingga ketikan dia dinilai dhaif bukan berarti hadis itu bohong. 3) sebelum sebuah hadis dinilai dhaif ada beberapa pertanyaan yang seharusnya ditanyakan terlebih dahulu yakni: what, who, where, when, why 4) berkenaan dengan hadis dhaif bermakna shahih menurut Hanif hadis tersebut dhaif jika disandarkan kepada nabi, namun jika tidak disandarkan kepada nabi maka maknanya shahih.