Abstrak
Bicara ayat-ayat mustayabihat, para ulama beragam cara dan metode dalam memaknai hal tersebut. Di antara ayat-ayat yang termasuk mustasyabihat adalah tentang Yadullah,(Tangan Allah). Kata yadullah merupakan Jism Allah dan merupakan problem yang harus di kaji lebih dalam mengenai maksud dan maknanya. Sebagian kelompok ulama membiarkan kata tersebut tanpa intpretasi demi menjaga kesucian Allah, sebagian lainnya menafsirkan secara zahir, yaitu Allah berjasad sebagaimana sama seperti jasad manusia dan sebagian lainnya menafsirkan dengan takwil, yaitu melepaskan makna zahir dengan mencari makna lainnya. Selain itu Ibnu Katsir dalam memahami ayat mutasyabihat tidak mentakwilkan, melainkan membiarkan saja dan hanya-Allah yang tahu. Bagi Ibnu Katsir haram hukumnya menafsirkan dengan akal fikiran tentang Jism Allah seperti manusia. Pendapat tersebut sebagaimana dengan pendapat gurunya Ibnu Taimiyyah dan aliran Mazhab Imam Syafi’i. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemahaman Ibnu Kastir tentang ayat Mutasyabihat dalam kata yadullah. Adapun konstruksi metode Penelitian ini berbasis library research(studi kepustakaan), dengan menggunakan pendekatan maudhu’i serta dengan jenis penelitian Kuantitaf deskriptif, yaitu Jenis penelitian mengutamakan analisa mendalam tentang data dan fakta yang ditemukan, kemudian diangkat ke dalam penelitian dan disajikan secara apa adanya dan tanpa rekayasa. Penelitian deskriptif dapat digunakan untuk penelitian sebuah peristiwa, pemikiran, kondisi, objek, atau status di masa yang akan datang. Hasil penelitian berdasarkan rumusan masalah adalah: pertama, ayat-ayat mutasyabihat merupakan ayat yang sulit dan sukar dipahami. Kendatipun begitu ayat tersebut hakikatnya melemahkan manusia, yaitu manusia sebenarnya lemah tanpa kekuasaan Allah Swt. Kedua, Ibnu Kasir menafsirkan kata yadullah dengan makna sebagaimana jumhur ulama, yaitu kekuasaan Allah Swt. Ketiga, adapun analisis penulis, bahwa Ibnu Katsir dalam menafsirkan kata yadullah, pada dasarnya tidak menafsirkan secara sendiri, karena Dia merupakan ulama Salaf dan Syafi’iyah. Kendatipun begitu, pada kasus tentang yadullah, Ibnu Kastir menggunakan takwil, tetapi hanya menyadur pendapat ulama lain.