Abstrak
Skripsi ini berjudul: ”Metode Pembelajaran Fikih Berbasis Masalah di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Padang Japang.” Ditulis oleh Lastri Maiyuliza, NIM 2114.031 Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Judul ini dilatarbelakangi oleh guru mata pelajaran fikih yang belum melaksanakan metode pembelajaran berbasis masalah sesuai dengan langkah-langkah yang seharusnya di kelas X Program Keagamaan MAN Padang Japang, sehingga akibatnya siswa menjadi pasif dalam belajar, merasa jenuh dan bosan saat mengikuti pembelajaran di kelas. Hal ini dibuktikan dengan aktivitas siswa yang senang keluar masuk saat proses belajar mengajar berlangsung, berbicara dengan teman, dan bersikap acuh tak acuh saat guru menyampaikan materi pelajaran. Akibatnya, nilai Ulangan Harian (UH) siswa banyak yang rendah dan dibawah KKM. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana cara guru menerapkan langkah-langkah metode pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran fikih di kelas X Program Keagamaan MAN Padang Japang? dan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara guru menerapkan langkah-langkah metode pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran fikih di kelas X Program Keagamaan MAN Padang Japang. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang bersifat deskritif, yaitu menggambarkan kejadian-kejadian yang terdapat di lapangan dengan apa adanya. Pengumpulan data penulis lakukan dengan observasi dan wawancara. Wawancara penulis lakukan terhadap guru fikih dan siswa kelas X Program Keagamaan, sedangkan observasi penulis lakukan di dalam kelas saat pembelajaran fikih berlangsung. Informan penelitian terdiri dari informan kunci dan informan pendukung. Informan kunci yaitu guru mata pelajaran fikih, sedangkan yang menjadi informan pendukung ialah siswa kelas X Program Keagamaan. Data dianalisis dengan reduksi data, display data, dan verifikasi data. Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan dikemukakan bahwa guru belum menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah secara maksimal, karena dalam pelaksanaannya guru belum mengikuti langkah-langkah yang seharusnya, baik pada tahap pendahuluan, tahap penyajian dan tahap penutup. Dari lima belas langkah yang ada, hanya empat langkah yang telah dilakukan guru dengan tepat, yaitu memotivasi siswa dengan menceritakan realita kehidupan pada setiap pertemuan, menjelaskan informasi dan aturan belajar metode pembelajaran berbasis masalah pada pertemuan pertama, membagikan tugas kelompok pada pertemuan pertama, dan memberikan PR di akhir pertemuan pertama dan kedua.