Abstrak
Skripsi ini atas nama ADIL MAKMUR, NIM. 2113.002. dengan judul “PEMIKIRAN BUYA HAMKA (HAJI ABDUL MALIK KARIM AMRULAH) TENTANG KEIKHLASAN DALAM MENDIDIK PESERTA DIDIK”. Maksud dari judul ini ialah bagaimana pemikiran HAMKA tentang keikhlasan seorang pendidik dalam mendidik peserta didik. Adapun motivasi penulis melakukan penelitian ini dilatarbelakangi oleh sebuah permasalahan tentang keikhlasan pendidik dalam mendidik peserta didik. Dewasa ini orang banyak salah paham dengan keikhlasan seorang pendidik. Apakah guru yang menerima gaji itu dikatakan tidak ikhlas, dan apakah pendidik yang tidak digaji itu yang ikhlas. Lalu bagaimana pendidik yang ikhlas itu?. Sebab keikhlasan sangat berpengaruh dalam mendidik peserta didik, keikhlasan dapat memberikan kenyamanan dalam belajar dan memudahkan peserta didik dalam memahami apa yang disampaikan oleh pendidik. Sekarang banyaknya peserta didik yang merosot akhlaknya, itu tidak bisa disalahkan semuanya terhadap peserta didik tapi, juga permasalahan ini juga harus diperhatikan terhadap kompetensi guru tentang keikhlasan guru dan kesabaran guru dalam mendidik. Apakah sudah diterapkan semuanya? . Sebab Rasulullah SAW juga pernah mendidik orang yang yang moral atau akhlak yang masih jauh dari akhlakul karimah sebab masa itu adalah masa jahiliyah namun karena keikhlasanya terhadap Allah dan keikhlasanya dalam berda’wah sampai saat ini agama islam masih ada. Semua itu karena keikhlsanya dalam berda’wah. Dalam pembahasan ini, penulis menggunakan penelitian studi kepustakaan yang diambil dari buku karangan Buya HAMKA dan buku-buku lain yang terkait dengan penelitian ini. Penelitian ini bersifat library research (penelitian kepustakaan) yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca, mencatat, serta mengolah bahan penelitian. Melalui penelitian ini dapat diketahui bagaimana konsep pemikiran Buya HAMKA tentang keikhlasan dalam mendidik peserta didik. Guru adalah sosok professional dan terhormat di mata siapapun. Maka guru harus benar-benar dapat digugu dan ditiru baik dalam ucapan, perbuatan maupun tingkah lakunya.Guru professional seharusnya memiliki niat yang baik, niat yang tulus ikhlas dalam menjalani profesinya. Tidak mengharapkan pujian, penghargaan, penghormatan, ketenaran dan sejenisnya. Di supervisi maupun tidak oleh kepala sekolah atau pengawas dan lainnya tetap konsisten melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa pemikiran HAMKA tentang keikhlsan dalam mendidik peserta didik harus diterapkan, karena tanpa keikhlsan semua pekerjaan yang dilakukan itu hanya sia-sia dimata Allah SWT. Ikhlas dan sabar adalah kunci kesuksesan dalam mendidik.