Abstrak
<p align="center"> <strong>ABSTRAK</strong></p> <p align="center"> </p> <p> Skripsi ini berjudul: <strong>“Pelaksanaan Take Over Pada Bank Syariah Bukopin Bukittinggi Menurut Perspektif Fiqh Muamalah”. </strong>Nama <strong>RANTI AFRIANI</strong><strong>, NIM. 1212.</strong><strong>020</strong> Jurusan Muamalah, Fakultas Syariah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Adapun maksud umum dari judul ini adalah suatu penelitian yang berusaha untuk mengetahui bagaimana Pelaksanaan <em>Take Over</em> Pada Bank Syariah Bukopin Bukittinggi Menurut Perspektif Fiqh Muamalah.</p> <p> Dalam <em>fiqh muamalah, hiwalah </em>dilakukan ketika A (<em>muhil</em>) berutang kepada B (<em>muhal</em>). Kemudian A (<em>muhil</em>) mengalihkan utangnya kepada C (<em>muhal ‘alaih</em>)<em>, </em>sehingga C (<em>muhal ‘alaih</em>) berkewajiban membayar utang A (<em>muhil</em>) kepada B (<em>muhal</em>) tanpa menyebutkan bahwa pemindahan utang tersebut sebagai ganti rugi dari pembayaran utang C (<em>muhal ‘alaih</em>) kepada A (<em>muhil</em>)<em>. </em>Dengan demikian, utang A (<em>muhil</em>) kepada B (<em>muhal</em>) menjadi utang C (<em>muhal ‘alaih</em>) kepada B (<em>muhal</em>). Sedangkan aplikasi akad <em>hiwalah</em> yang berbentuk <em>Take Over </em>dalam pembiayaan IB pemilikan rumah pada Bank Syariah Bukopin Bukittinggi, yaitu: Di mana Bank Syariah Bukopin Bukittinggi memberikan <em>qardh</em> kepada nasabah. Dengan<em> qardh</em> tersebut nasabah melunasi kredit (utang)-nya pada Bank Konvensional. Dengan demikian aset (rumah) tersebut menjadi milik nasabah secara penuh. Setelah <em>Take Over </em>KPR itu selesai, lalu dilakukan pengikatan <em>murabahah, </em>surat hutang dan pengikatan jaminan. Berdasarkan penjelasan di atas, maka yang menjadi permasalahannya adalah bagaimana mekanisme pelaksanaan <em>Take Over </em>dan bagaimana pandangan fiqh muamalah terhadap pelaksanaan <em>Take Over.</em></p> <p> Untuk membahas masalah ini, digunakan data melalui kegiatan penelitian lapangan (<em>field research</em>) dengan metode analisis kualitatif yang menggambarkan pelaksanaan <em>Take Over </em>pada Bank Syariah Bukopin Bukittinggi menurut perspektif fiqh muamalah.</p> <p> Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada Bank Syariah Bukopin Bukittinggi, maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan <em>Take Over </em>dalam pembiayaan IB pemilikan rumah menggunakan akad <em>qardh </em>dan akad <em>murabahah</em>. Pelaksanaan <em>Take Over</em> tersebut terdapat sedikit perbedaan dengan aplikasi akad <em>hiwalah </em> dalam Bank Syariah yang berbentuk <em>Take Over</em>, yaitu dengan menggunakan alternatif <em>qardh bai’ murabahah </em>berdasarkan Fatwa DSN No. 31/DSN-MUI/VI/2002, tentang pengalihan utang. Adapun beberapa tambahan biaya, seperti: biaya administrasi, biaya notaris. Hal ini diboleh dalam fiqh muamalah, karena jika dilihat dari segi imbalan/keuntungannya, termasuk dalam jenis <em>hiwalah bil ujrah</em> yang dibolehkan untuk mengambil <em>ujrah/fee</em> dan hanya berlaku pada <em>hiwalah muthlaqah.</em> Pelaksanaan<em> Take Over </em>pada Bank Syariah Bukopin Bukittinggi tersebut terhindar dari<em> gharar, </em>eksploitasi, riba, dan ketidakadilan. Bahkan memberikan manfaat yang banyak bagi kedua belah pihak (Bank Syariah Bukopin Bukittinggi dan nasabah).</p>