· Research · Hasil Penelitian dan Pengabdian
<p>
<span class="fontstyle0">Tujuan tulisan ini ingin melihat sejauhmana BP4 Kota<br />
pariaman memiliki peranan dalam penguatan psiko-sosial<br />
manusia dibidang kesejahteraan sosial, pelayanan bagi alumni<br />
pasutri pasca pernikahan perlu didintaklanjuti dengan program<br />
yang berimbang. Minimnya pemahaman psiko-sosial alumni<br />
kursus pra nikah pasca menikah akan berpotensi besar untuk<br />
menambah deretan panjang usia pernikahan dini di Kota<br />
Pariaman. Persoalan mendasar yang paling meresahkan adalah<br />
ketidaktahuan mereka akan tanggung jawab, hak-hak serta<br />
kewajiban suami istri dalam rumah tangga. Untuk mengatasi<br />
solusi ini tim pengabdian melakukan identifikasi masalah<br />
kelapangan serta melakukan pemetaan masalah untuk<br />
diberikan perlakuan </span><span class="fontstyle2">(treatment</span><span class="fontstyle0">) pada subjek pengabdian<br />
melalui dua tahap berupa bimbingan psikologi keluarga dan<br />
konseling keluarga Islami.</span><br style="font-variant-numeric: normal; font-variant-east-asian: normal; line-height: normal; text-align: -webkit-auto; text-size-adjust: auto;" />
</p>
· Research · Hasil Penelitian dan Pengabdian
Berdasarkan data jumlah penduduk kota Pariaman adalah 77.480 jiwa, yang terdiri
atas 37.682 penduduk laki-laki dan 39.798 jiwa perempuan, dengan luas wilayah 73,36 km2
kepadatan penduduk Kota Pariaman adalah 1.056,16 jiwa per km2. Kecamatan Pariaman
Tengah adalah kecamatan dengan kepadatan penduduk tinggi. (BPS Sumbar: 2018).
Wawancara dengan sekretaris Badan Penasihatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan
(BP4) Kota Pariaman periode 2011 – 2018 bapak Fitrison Efendi: Agustus 2021) “pasutri
menikah setiap tahun berkisar 1000 orang, sekitar 120 orang (12%) terjadi kasus perceraian
baik bercerai mati maupun gugat cerai di Pengadilan Agama Pariaman”. Angka ini melebihi
nasional jika merujuk pendapat Nasaruddin Umar (mantan Dirjen Bimas Islam RI) bahwa
“Sekitar 2 (dua) juta pasangan menikah setiap tahun, disisi lain 200 ribu pasangan juga
bercerai setiap tahun, angka ini mencapai 10% dari jumlah orang yang menikah”. (Majalah
bulanan BP4 Pusat: 2011). Data Kemenag RI mengungkap tentang peristiwa perceraian
selama 3 tahun terakhir, tahun 2011 sebanyak 158.119 peristiwa, pada tahun 2012 sebanyak
372.577 peristiwa, dan pada tahun 2013 sebanyak 324.572 peristiwa. Dari total perceraian
yang terjadi pasangan dengan usia kurang dari 5 tahun (perceraian dini), sehingga berdampak
terhadap kehidupan sosial mulai dari krisis harga diri, ekonomi, hingga terhambatnya
pendidikan anak-anak”.
Untuk merespon persoalan di atas pada hari sabtu, 30 Juli 2011 Walikota Pariaman
meresmikan pelaksanaan “Kursus Pra-Nikah” dan mengeluarkan Surat Keputusan (SK) tim
pelaksana kegiatan sekaligus sebagai pengurus harian di BP4 kota Pariaman. Keputusan
Walikota ini menindaklanjuti Peraturan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam
Departemen Agama RI Nomor: Dj.II/491 Tahun 2009 tentang “Kursus Calon Pengantin”
sekaligus memperkuat “Peraturan Daerah Kota Pariaman Nomor 6 Tahun 2009 tentang
“Pandai Baca Al-Qur’an bagi Calon Pengantin”.
Pemerintah kota bersama jajaran dan tokoh masyarakat seperti alim ulama/MUI,
tokoh masyarakat seperti: ormas kepemudaan, ormas keislaman, lembaga adat dan semua3
stake holder melunching kegiatan tersebut. Pasca launching, BP4 kota Pariaman menyurati
Lurah, Kepala Desa, Camat dan Kepala KUA se-kota Pariaman untuk mensosialisasikan
kepada warga tentang pelaksanaan kursus pra nikah bagi CATIN yang akan melaksanakan
pernikahan. Pengurus harian BP4 Kota Pariaman melakukan aksi cepat tanggap dengan
mengeluarkan SK tim pelaksana kursus pra nikah Nomor: 015/BP.4-Prm/VIII/2011 tanggal
08 Agustus 2011. SK ini merinci tentang teknis pelaksanaan tugas instruktur kursus pra-nikah
memberikan pengajaran sesuai materi yang ditentukan dalam pelaksanaan kursus pra nikah
BP4 kota Pariaman.
Materi yang diberikan selama pelatihan adalah sebagai berikut: (1) Peraturan
perundang-undangan tentang rumah tangga, (2) Tata cara dan prosedur pencatatan nikah, (3)
problematika rumah tangga dan solusinya, (4) Kesehatan reproduksi dan keluarga berencana,
(5) Hak dan kewajiban suami istri, (6) Pengetahuan agama, (7) Adat istiadat dalam
perkawinan dan rumah tangga, (8) Psikologi perkawinan dan keluarga, (9) Pemeliharaan
kesehatan keluarga dan lingkungan, (10) Pembinaan ekonomi keluarga, (11) Bimbingan baca
tulis Al-Qur’an, (12) Praktek ibadah, (13) Tata cara pelaksanaan nikah. Materi ini mengacu
kepada Peraturan Direktur Jenderal Bimbingan Islam Departemen Agama RI tentang kursus
calon pengantin tahun 2009 Bab III pasal 3.
Semua materi yang ditawarkan dalam kursus pra nikah ini narasumbernya diundang
dari berbagai unsur sesuai dengan komptensi keahliannya masing-masing. Diantaranya adalah
dari KEMENAG provinsi Sumatera Barat dan kota Pariaman, IAIN Bukittinggi, Pengadilan
Agama Pariaman, Dinas Kesehatan, MUI, BP2KB, LKAM, BAZ, LPPTQ, Ormas
Keagamaan se-Kota Pariaman, dan unsur-unsur lainnya yang terkait. Kegiatan ini
dilaksanakan selama 3 hari, yakni pada hari jum’at, sabtu dan minggu, artinya pelaksanaan
kegiatan ini dirancang pada waktu libur jam pegawai agar tidak mengganggu kinerja peserta
kursus yang akan mengikuti kegiatan ini. (Afrinaldi, dkk: 2013).
Karena kegiatan ini tidak mendapatkan pembiayaan dari Pemerintah pusat/daerah
untuk pelaksanaan kursus pra-nikah ini, maka BP4 kota Pariaman mengambil inisiatif dengan
memungut biaya pendidikan Rp. 200.000,- / orang. Penggunan dana untuk kegiatan
operasional seperti sewa gedung, ATK, modul, sertifikat, snack, honor pemateri dan lain-lain.
Sedangkan bagi peserta CATIN yang tidak mampu yang dibuktikan dengan surat keterangan
tidak mampu dari Lurah/Desa tidak dipungut biaya sama sekali tapi tidak mendapatkan
fasilitas kecuali sertifikat. Mengingat kegiatan ini dipungut biaya bagi yang mampu, maka
semangat dan motivasi warga kota Pariaman mengikuti kursus pra-nikah ini mulai mendua,4
alasan srategis adalah persoalan ekonomi dan administratif. Sehingga berimplikasi terhadap
kelancaran pelaksanaan kursus pra-nikah di BP4 kota Pariaman.
Kegiatan BP4 kota Pariaman yang kreatif dan inovatif ini ternyata tidak sepenuhnya
mendapat dukungan moril dari masyarakat, kehadiran BP4 bahkan dianggap sebagai langkah
mempersulit pelaksanaan keberlangsungan pernikahan. Hal ini tentu saja menguntungkan
bagi warga masyarakat yang kontra dengan keberadaan BP4, mereka ini mencoba
membalikkan fakta dengan mengadu domba masyarakat awam untuk tidak perlu mengikuti
pelatihan kursus pra-nikah, sebahagian ada yang terpengaruh kemudian tidak mau mengikuti
dengan dalih bekerja, tidak ada waktu yang pas, masih dirantau dan lain sebagainya.
Dari segelintir orang yang mencoba menghalangi, menggagalkan rencana pelatihan,
merusak pencitraan terhadap BP4, menghasut untuk tidak perlu mengikuti dan lain
sebagainya, tapi banyak juga yang menyatakan dukungan morilnya dengan tetap konsisten
agar pelatihan kursus pra-nikah tetap dilaksanakan sekalipun ada yang mempersoalkan.
Kelompok yang membrikan dukungan ini juga merasakan faedah dan manfaat dari
pelaksanaan pelatihan kursus pra-nikah walaupun harus mengeluarkan biaya dari saku peserta
sendiri. Mereka ini pada umumnya adalah orang yang terdidik, kaum intektual, orang
terpelajar, mengerti agama dan adat istiadat di masyarakat, sehingga mereka merasakan
faedahnya setelah menjalani kehidupan berkeluarga.
· Research · Hasil Penelitian dan Pengabdian
Facing an era of disruption marked by rapid change and high complexity, Islamic education
needs to optimize itself with a multidisciplinary approach as a leading solution. This approach involves
the integration of various disciplines, such as science, technology, art, history, and social, in Islamic
religious learning. The main objective of this approach is to enrich students' understanding of Islamic
teachings, relate them to the context of everyday life, and develop critical, collaborative, and creative
thinking skills relevant in facing the challenges of the era of disruption. The multidisciplinary approach
in Islamic education allows the use of innovative learning methods, such as group discussions,
collaborative projects, and the utilization of information technology, to create a stimulating and
challenging learning environment. In this context, Islamic education can broaden the scope of its
learning by linking Islamic teachings with contemporary issues, such as the environment, social justice,
technology, and globalization. A multidisciplinary approach also requires cooperation and support from
various parties, including government, educational institutions, teachers, parents, and the community.
This synergy between various stakeholders will strengthen the implementation of a multidisciplinary
approach in Islamic education and ensure its relevance in facing changing times. By optimizing Islamic
education through a multidisciplinary approach, it is hoped that Islamic education can remain relevant,
adaptive, and able to form a young generation who have a strong understanding of religion, relevant
skills, and high moral integrity in facing the complexity and changes of modern times.
· Research · Hasil Penelitian dan Pengabdian
<p>
<span class="fontstyle0">Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi proses pelaksanaan manajemen<br />
penerimaan siswa baru secara </span><span class="fontstyle2">online </span><span class="fontstyle0">pada MTsN 11 Agam tentang apakah berjalan<br />
dengan lancar atau ada kendala yang ditemukan. </span></p>
· Research · Hasil Penelitian dan Pengabdian
<p>
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui siknifikansi hubungan secure attachment dengan kemandirian remaja madya di jorong giri maju luhak nan duo pasaman barat.</p>
· Research · Hasil Penelitian dan Pengabdian
Sebagai pemateri webinar internasional dengan tema : the future of human resource and artificial intelligence
· Research · Hasil Penelitian dan Pengabdian
<div>
<p>
dampak perceraian yang sangat tinggi tidak dapat dipungkiri, ia telah menjadi salah satu faktor yang memiskinkan piskis mental serta kejiwaan, spiritual bahkan ekonomi rumah tangga. Kondisi seperti ini biasanya secara psikologis paling banyak melanda kaum perempuan sebagai akibat dari dampak perceraian, sehingga kaum ibu harus rela menjadi orangtua ganda alias berjuang sendirian mencari nafkah untuk menghidupi anak-anak mereka. Kaum perempuan kehilangan mata pencaharian jika selama ini hanya bergantung kepada suami, kehilangan semangat untuk mengelola kehidupan rumah tangga yang lebih baik, implikasinya akan berdampak sangat fatal terhadap pertumbuhan dan perkembangan psikologis anak. Untuk menanggulangi hal ini, sangat perlu dilakukan penanganan cepat yang serius melalui berbagai upaya dan pemberdayaan, solusi yang ditawarkan adalah melalui penguatan bimbingan psikologis, spiritual dan keterampilan ekonomi berbasis sayariah mampu membangkitkan semangat kewirausahaan mereka agar tidak terkena virus perceraian pada usia dini.</p>
</div>
<p>
</p>
· Research · Hasil Penelitian dan Pengabdian
<p>
<span class="fontstyle0">bagaimana penguatan psikologi keluarga dan konseling individual serta<br />
kelompok untuk memotivasi dirinya agar tidak mengalami konflik rumah tangga atau<br />
perceraian pada usia dini.</span></p>
· Research · Hasil Penelitian dan Pengabdian
This study aims to examine the learning styles and creativity of Islamic education
management students at IAIN Bukittinggi. The research design uses a quantitative
approach involving survey methods. The research, which was conducted at IAIN
Bukittinggi, involved a sample of 44 students consisting of 22 male students and 22 female
students. The research instrument used to collect data was a questionnaire with a Likert
scale of up to five according to the local context. The study was analyzed using descriptive
and inferential statistics. Descriptive statistics consist of min value, standard deviation,
percentage and frequency. While inferential statistics involve the use of statistical
techniques MANOVA and Pearson Correlation. The results of the study found that the level
of competitive, avoidant and free learning styles was at a high level, while the
collaborative learning style was at a low level. While the creativity of originality, flexibility
and fluency of students is at a dominant or high stage. The MANOVA test showed that
there was no significant difference between the types of learning styles and students'
creativity based on gender. In addition, Pearson correlation analysis shows that there is a
significant relationship between competitive and collaborative learning styles with
authentic creativity and there is a relationship between avoidant and free learning styles
with flexibility creativity, and there is a significant relationship between competitive,
avoidant, dependent and independent learning styles with fluency creativity. Theoretical
and practical implications as well as seven studies have been presented to help lecturers
identify student learning styles and creativity
2018 · Book · Koleksi Perpustakaan
ABSTRACT:Global language communication has always been a topic of great interest. How and why majority languages evolved is an intriguing topic that has evolved over the centuries. Evidence has been rapidly mounting that suggest that there are only a handful of spoken languages that receive more utility than that of the thousands available today. Indeed, there are a remarkable 6,912 world languages in existence today spoken in approximately 245 countries, including territories and disputed lands by over 6.7 billion people. However, for as many languages as there exist today, there are numerous languages that go unused or are only spoken by a few people and are headed for extinction.
2018 · Book · Koleksi Perpustakaan
Coaching sudah beberapa tahun terakhir semakin menjadi buah bibir nan menawan di kalangan praktisi pengembangan sumber daya manusia, pemimpin perusahaan, pemilik bisnis, dan para penjelajah kehidupan di tanah air. Buku ini adalah buku coaching berstandar global yang betul-betul menggugah diri dari dalam, tanpa terhenti pada sekadar definisi dan teknik belaka, yang belum banyak tersedia di negeri ini. Buku Dinamika Batin Dalam Coaching ini merupakan buku pertama dari program sertifikasi The Art and Science of Coaching yang berisi tentang kekuatan sudut pandang dalam suatu percakapan yang dapat mengubah Anda. Dengan menggunakan cara percakapan yang tepat tersebut, Anda akan belajar berhubungan dan berteman dengan pikiran bawah sadar Anda. Dengan demikian Anda dapat membantu diri Anda dan orang lain dengan lebih terstruktur dan terarah. Buku ini diharapkan hadir sebagai oase atas kehausan banyak pemimpin, pelatih, dan pembelajar dalam mengungkap esensi dari sains dan seni coaching. Setiap babnya bagaikan tegukan demi tegukan air kehidupan nan segar yang mengusir kegalauan diri, kegelisahan kabut visi, dan ketidakpastian langkah.
2018 · Book · Koleksi Perpustakaan
2016 · Book · Koleksi Perpustakaan
Our brains are getting wired differently in the world of digital technology, information revolution, and in the inter-cultural world of global society. Think of the new vocabulary: Global brain, collective intelligence, global village, and cyberspace. That should tell us something about the neural rewiring that is taking place inside of our brains, whether or not we are aware of it. The fact that the human brain changes throughout a person's life in response to intellectual stimulation, physical exercise, exposure to new cultural environments, learning opportunities, and challenges is a revolutionary discovery. Till twenty years ago neuroscientists believed in the conventional theory that the brain's ability at making new neural connections stopped before a child entered adolescence. That is the old dogma. There is a "Second Copernican Revolution" taking place inside of our brains, writes the author, quoting Carl Zimmer. Some experts are suggesting that we are already living in what Richard Restack calls the "neurosociety." Ray Kurzweil, the futurist, is predicting that by 2045 A.D., human beings will be living in an era of "singularity," when non biological machines invented by human brains and human ingenuity are going to outsmart human intelligence billions of times. What is going to be the fate of the human spirit, human spirituality, the feeling of connection to a force and power that is greater than us (God), our ability to use spiritual imagination and our intelligence? Are we progressively moving away from religion and community-based spirituality into the "spirituality of different strokes for different folks?" In his groundbreaking book, Spiritual Intelligence and The Neuroplastic Brain: A Contextual Interpretation of Modern History, Charles W. Mark takes the reader on a journey through modern history and shows the glimpse of what is to come. http: //www.spirituality-intelligence.com
2016 · Book · Koleksi Perpustakaan