TRADISI MAMBADAI HEWAN KURBAN SEBELUM DISEMBELIH DALAM TINJAUAN SOSIOLOGI HUKUM DI NAGARAI BATAGAK KECAMATAN SUNGAI PUA KABUPATEM AGAN”
Skripsi ini berjudul “Tradisi Mambadai Hewan Kurban Sebelum Disembelih Dalam Tinjauan Sosiologi Hukum di Nagari Batagak Kecamatan Sungai Pua Kabupaten Agam” ditulis oleh Muhsinir Rahim, NIM 1121102, Program Studi Hukum Keluarga (Al-Ahwal Al-Sayakhsiyyah) Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi. Skripsi ini ditulis karena tradisi mambadai hewan kurban sebelum disembelih di Nagaari Btagak Kecmatan Sunghai Puaa Kabupten Agan, seperti, membadai muka hewan kurban menyisir bulu wajah hewan kurban, mencerminkan hewan kurban, dengan tujuan hewan bersih dan keiklahsan untuk menjadi persembahan kepada Allah SWT. Dalam pelaksanaannya yang menggunakan alat-alat seperti sisir, limau, kaca dan bedak yang menggunakan makna filosofisnya masing-masing. Penelitin inii adlah penelitin lapngan (field research) dngan pendkatan kulittif. Data dikmpulkan dngan metode obsrvasi, wawncara, dan stdi dokmentasi. Sedngkan yaang menjdi informan penelitin adaah niniak mamak Nagaari Batagk, Ulma Nagaari Batagak, Wali Nagari Batagk daan masarakat Nagri Btgak Kecmatan Sungai Pua Kabupaten Agam. Adpun dalm menganaisis data, penulis menggunakan metde analsis kualtatif dalm bntuk deskriptif. Berdasarkn pemaparan hsil penelitan sebagaimana yang telh disajikan pda baab seblumnya, pnulis dpat menyimpulkn bhwa: yanag pertana Dlam pelaksanaan tradisi mambadai hewan kurban sebagai bagian integral persiapan hewan kurban yang meliputi penggunaan syarat-syarat simbolis seperti, limau, sikek, kaco baraso, badak bareh, dengan setiap syarat memiliki makna filosofis dalam penyucian dan intropeksi diri dalam beribadah serta perpduan antra ajarn Islaam daan adaat istidat stempat. (2) bersarkan makna sosiologi hukum tradisi mambadai merupakan manisfestasi dari hukum yang hidup (Living Law) di Nagari Batagak, dimana norma-norma ini ditaati dan dilestarikan secara informal melalui kesepakan sosial dan budaya secara turun-temurun meskipun tidak diatur dalam hukum formal Negara. Secara sosiolgi hukum, tradisi ini bersfungsi sebagai control sosial yang efektif, memperkuat solidaritas,dan kohesi sosial serta meneguhkan nilai- nilai etika. Molaritas dan kebersamaan dalam masyarakat. Mambadai juga berperan sebagai sarana pewarisan nilai luhur dari leluhur kepada generasi penerus , sehingga identitas budaya dan kearifan local tetap lestari di tengah arus modernisasi.