2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul “Tradisi Uang Japuik dan Uang Ilang dalam Pra
Pernikahan di Pariaman Perspektif „Urf. Yang ditulis oleh Muhammad Khalil
Gibran, NIM 1122134. Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah,
Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, 2026.
Tradisi uang japuik dan uang ilang merupakan salah satu adat perkawinan
yang masih dilestarikan oleh masyarakat Pariaman hingga saat ini. Tradisi ini
menjadi bagian penting dalam pelaksanaan pernikahan karena berkaitan dengan
sistem kekerabatan matrilineal yang dianut masyarakat Minangkabau. Dalam
praktiknya, uang japuik diberikan oleh pihak keluarga perempuan kepada pihak
laki-laki sebagai bentuk penghormatan dan penjemputan calon mempelai laki-laki,
sedangkan uang ilang merupakan pemberian yang disepakati oleh kedua belah
pihak dalam rangka pelaksanaan pernikahan adat dan jadi bekal untuk pengantin.
Seiring perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat, pelaksanaan tradisi ini
mengalami berbagai dinamika yang memunculkan beragam pandangan di
kalangan masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
bagaimana pelaksanaan tradisi uang japuik dan uang ilang dalam pernikahan di
Pariaman serta faktor-faktor yang memengaruhi keberlangsungan tradisi tersebut.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan
pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan
tokoh adat, tokoh agama, niniak mamak, orang tua pengantin, pasangan yang telah
melaksanakan tradisi uang japuik dan uang ilang, serta masyarakat Desa Apar,
Kecamatan Pariaman Utara. Data sekunder diperoleh dari buku, jurnal, dan
dokumen yang relevan. Selanjutnya data dianalisis menggunakan metode
deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi uang japuik dan
uang ilang dilakukan melalui musyawarah antara kedua belah pihak keluarga
dengan melibatkan niniak mamak dan tokoh adat. Uang japuik diberikan oleh
keluarga perempuan kepada keluarga laki-laki sebagai bentuk penghormatan dan
penjemputan calon mempelai laki-laki, sedangkan uang ilang merupakan
pemberian yang berkaitan dengan pelaksanaan adat dan kebutuhan dalam
pernikahan. Besaran pemberian ditentukan berdasarkan kesepakatan dengan
mempertimbangkan kondisi ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan status sosial
calon mempelai laki-laki. Ditinjau dari perspektif „urf, tradisi uang japuik dan
uang ilang pada dasarnya dapat dikategorikan sebagai „urf shahih selama
pelaksanaannya tidak bertentangan dengan syariat, dilakukan atas dasar
kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak, serta tidak menimbulkan
kemudaratan. Tradisi tersebut juga bukan merupakan rukun atau syarat sah
pernikahan. Namun, apabila penetapan nominal uang japuik dan uang ilang terlalu
memberatkan hingga menyebabkan tertundanya atau gagalnya pernikahan, maka
praktik tersebut berpotensi menjadi „urf fasid karena menimbulkan kemudaratan
dan tidak lagi sejalan dengan tujuan syariat
2018 · Book · Koleksi Perpustakaan
2018 · Book · Koleksi Perpustakaan
Em sua relativamente curta, porém, prolífica existência, Khalil Gibran produziu obras literárias marcadas pelo misticismo oriental, que alcançou popularidade em todo o mundo. Em suas obras, trata de temas como o amor, a amizade, a morte e a natureza, entre outros. 'O Profeta', 'O Louco' e 'A Procissão' são três obras que se propõem a trazer ensinamentos do princípio ao fim.Este livro traz os textos integrais.
2018 · Book · Koleksi Perpustakaan
A great selection of parables, stories, and poems of Khalil Gibran. A book full of emotion, poetry and spiritual comfort that has touched hearts around the world.
2018 · Book · Koleksi Perpustakaan
Your Lebanon is an arena for men from the West and men from the East. My Lebanon is a flock of birds fluttering in the early morning as shepherds lead their sheep into the meadows and rising in the evening as farmers return from their fields and vineyards. You have your Lebanon and its people. I have my Lebanon and its people. Yours are those whose souls were born in the hospitals of the West; they are as a ship without rudder or sail upon a raging sea . . . . They are strong and eloquent among themselves but weak and dumb among Europeans. They are brave, the liberators and the reformers, but only in their own area. But they are the cowards, always led backward by the Europeans. They are those who croak like frogs boasting that they have rid themselves of their ancient, tyrannical enemy, but the truth of the matter is that this tyrannical enemy still hides within their own souls. They are the slaves for whom time had exchanged rusty chains for shiny ones so that they thought themselves free. These are the children of your Lebanon. Is there anyone among them who represents the strength of the towering rocks of Lebanon, the purity of its water or the fragrance of its air? Who among them vouchsafes to say, "When I die I leave my country little better than when I was born?"
2018 · Book · Koleksi Perpustakaan
Sheik Abbas was looked upon as a prince by the people of a solitary village in North Lebanon. His mansion stood in the midst of those poor villagers' huts like a healthy giant amidst the sickly dwarfs. He lived amid luxury while they pursued an existence of penury. They obeyed him and bowed reverently before him as he spoke to them. It seemed as though the power of mind had appointed him its official interpreter and spokesman. His anger would make them tremble and scatter like autumn leaves before a strong wind. If he were to slap one's face, it would be heresy on the individual's part to move or lift his head or make any attempt to discover why the blow had come. If he smiled at a man, the villagers would consider the person thus honoured as the most fortunate. The people's fear and surrender to Sheik Abbas were not due to weakness; however, their poverty and need of him had brought about this state of continual humiliation. Even the huts they lived in and the fields they cultivated were owned by Sheik Abbas who had inherited them from his ancestors.