PENGEMBANGAN MODUL AJAR MATA PELAJARAN TAFSIR BERINTEGRASI ‘ULUMUL QUR’AN PONDOK PESANTREN DINIYAH LIMO JURAI SUNGAI PUA KABUPATEN AGAM
Disertasi ini berjudul “Pengembangan modul ajar mata pelajaran tafsir berintegrasi ‘‘Ulumul Qur’an pada Pondok Pesantren Diniyah Limo Jurai Sungai Pua Kabupaten Agam.” Penelitian ini dilakukan oleh Yusri Yaldi, Nim; 32123009. Program Doktor S3 Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, 2026. Penilitian ini berangkat dari kondisi kegiatan pembelajaran Tafsir dan ‘Ulumul Qur’an di Pondok Pesantren Diniyah Limo Jurai Sungai Pua, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, masih berjalan terpisah antara bidang studi Tafsir dengan ‘Ulumul Qur’an dengan menerap materi ajar sederhana berbasis kitab klasik dan hafalan konvensional, tanpa dokumen modul terintegrasi yang mendukung pemahaman holistik. Pembelajaran seperti ini menyebabkan fragmentasi konsep ‘Ulumul Qur’an belum teraplikasikan secara kontekstual pada analisis Tafsir, sehingga belum maksimal memenuhi tuntutan keterampilan abad 21 bagi siswa di program Takhasus Tafsir. Kurikulum pesantren bidang studi‘Ulumul Qur’an perlu bertransformasi dari hafalan menjadi alat interpretasi aktif, selaras dengan perkembangan pendidikan Islam modern yang menekankan integrasi ilmu pengetahuan Qur'ani. Pengembangan modul ajar berbasis model 4D diperlukan untuk mengintegrasikan kedua mata pelajaran secara sistematis, meningkatkan validitas, praktikalitas, dan efektivitas pembelajaran di lingkungan pesantren lokal. Penelitian ini bertujuan mengembangkan modul ajar mata pelajaran Tafsir yang terintegrasi ‘Ulumul Qur’an di Pondok Pesantren Diniyah Limo Jurai Sungai Pua, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Metode penelitian menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model pengembangan 4D (Define, Design, Develop, Disseminate) untuk mengatasi keterpisahan materi ajar yang berbasis hafalan konvensional. Pendekatan 4D memberikan kerangka sistematis dalam mengembangkan modul ajar Tafsir berintegrasi ‘Ulumul Qur’an. Pada tahap Define, dilakukan analisis kebutuhan pembelajaran untuk menentukan tujuan, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian pembelajaran (KKO 4-6). Tahap Design dan Develop menghasilkan struktur modul dengan model Integrasi Multidisipliner Infusif-Komplementatif yang artinya ‘Ulumul Qur'an diinfuskan ke dalam mata pelajaran Tafsir sebagai elemen pendukung utama kemudian Teori ‘Ulumul Qur'an berfungsi melengkapi analisis tafsir ayat secara kontekstual. Dalam aktualisasinya melibatkan dua disiplin utama (mata pelajaran Tafsir dan mata pelajaran ‘Ulumul Qur'an) dengan hierarki Tafsir sebagai core subject. Infusi ‘Ulumul Qur'an dilakukan secara sistematis pada tiga lapisan utama : kontekstual (asbabun nuzul, makkiyah-madaniyah), struktural (munasabah, tartib ayat), dan metodologis (Mantuq Mafhum, nasikh-mansukh, i'jaz). Pendekatan ini mengubah ‘Ulumul Qur’an dari hafalan konsep menjadi pemahaman kontekstual yang diaplikasikan pada analisis Tafsir melalui aktivitas deep learning, refleksi tematik, dan proyek kolaboratif dalam program Takhasus Tafsir. Tahap Disseminate melibatkan sosialisasi dan pelatihan kepada guru serta evaluasi terus-menerus untuk peningkatan mutu modul. Modul ini mengubah pendekatan fragmentasi menjadi holistik, selaras dengan kurikulum pendidikan Islam modern. Hasil pengembangan modul ajar Tafsir berintegrasi ‘Ulumul Qur’an menunjukkan bahwa modul ini diterima dengan sangat baik dalam konteks Pondok Pesantren Diniyah Limo Jurai. Pada tahap Define dan Design, penilaian ahli materi (tafsir dan ‘Ulumul Qur’an) serta ahli media menyatakan bahwa keterpaduan antara konsep ‘Ulumul Qur’an dan keterampilan analisis tafsir telah dirancang secara sistematis, bahasa dan struktur modul jelas, serta sesuai dengan kurikulum pendidikan Islam modern di pesantren. Hasil angket validitas mencapai rata rata modul dikategorikan sangat valid dan siap diujicobakan dalam kelas takhasus tafsir. Pada tahap Develop dan Disseminate, modul terbukti sangat praktis dan sangat efektif dalam praktik pembelajaran. Guru melaporkan bahwa petunjuk penggunaan modul mudah diikuti, aktivitas deep learning, refleksi tematik, dan proyek kolaboratif dapat dijalankan tanpa beban pedagogis berlebihan, meskipun tetap memerlukan penyesuaian ritme pembelajaran pesantren. Secara akademik, hasil penilaian menunjukkan peningkatan signifikan kemampuan analitis dan kritis siswa, misalnya dari rata rata pretest sekitar 62% pada kemampuan analisis teori-teori yang terdapat dalam materi pelajaran ‘Ulumul Qur’an menjadi rata rata posttest sekitar 85% setelah penggunaan modul selama satu semester. Data ini menunjukkan bahwa modul tidak hanya memperbaiki kualitas materi ajar, tetapi juga mengubah pola belajar santri dari hafalan konvensional menjadi pemahaman kontekstual yang terukur.