Pola Komunikasi Antarbudaya Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Pendatang di Jorong Saroha
Skripsi atas nama Ismi Afifah Kurnia Nim 4316.042, dengan judul “Pola Komunikasi Antarbudaya Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Pendatang Di Jorong Saroha Kabupaten Pasaman Barat”. Program Studi Komunikasi Dan Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi tahun 2020/2021. Penelitian ini dilatar belakangi dengan kebudayaan lokal di Pasaman Barat dimana memiliki beberapa perbedaan kebudayaan pendatang misalnya dengan kebudayaan Minangkabau, kebudayaan Jawa dan kebudayaan Mandailing, perbedaan ini bisa dilihat dari jenis bahasa masing-masing etnis. Dimana bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang di gunakan manusia untuk berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat),dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan lawan bicaranya maupun orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan berbagai macam bentuk budaya yang dimiliki oleh masyarakat yang ada dilingkungan tersebut. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan menggambarkan fenomena yang ada dengan informan masyarakat dan kepala jorong. Data dikumpulkan menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Peneliti akan memperoleh data dengan menggunakan analisis data deskriptif analitik maksudnya data yang diperoleh tidak dituangkan dalam bentuk angka statitik melainkan tetap dalam bentuk kualitatif. Dalam pengolahan data kualitatif ini, peneliti menggunakan proses berpikir indukatif, artinya bahwa pengolahan data bertitik tolak dari data yang dikumpulkan melalui observasi dan wawancara kemudian diambil kesimpulan. Hasil penelitian diperoleh bahwa berdasarkan hasil penelitian yang peniliti lakukan Adapun pola komunikasi yang peneliti temukan dalam penelitian ini adalah yang pertama pola komunikasi primer misalnya saja cara Masyarakat Mandailing menyapa Masyarakat Melayu dengan suara yang lantang (verbal) dan membalas sapaan dengan mengangkat kepala keatas (nonverbal). Yang kedua pola komunikasi sekunder contohnya saja pada Jorong Saroha memakai kai hitam sebagai penyampian pesan bahwasanya ada kematian. Yang ketiga pola komunikasi Contohnya saja pada Jorong Saroha dimana pada saat mengundang acara pernikahan mereka mengundangnya secara langsung dengan bertatap muka. Keempat pola komunikasi sikular yaitu komunikasi yang dimaksud dengan proses komunikasi sirkular misalnya saja masyarakat Mandailing secara tidak sengaja menggunakan bahasa mandailing jadi menyulitkan masyarakat pendatang untuk memahami maksud dari kata tersebut maka masyarakat Mandailing harus mengulangi kembali pembicaraan dengan bahasa yang mudah dimengarti oleh masyarakat Jawa maupun Masyarakat Melayu. Faktor penghambat pola komunikasi antarbudaya yaitu dimana gangguan dalam berkomunikasi antarbudaya adalah segala sesuatu yang menjadi penghambat laju pesan yang ditukar antara komunikator dengan komunikan, atau paling fatal adalah mengurangi makna pesan antarbudaya. Terdapat 3 faktor penghambat yaitu pertama faktor fisik yaitu gangguan ini biasanya berasal dari luar dan mengganggu transmisi fisik pesan, seperti kagaduhan, interupsi, jarak dan sebagainya. Contohnya saja dalam masyarakat Jorong Saroha yaitu perbedaan nada berbicara antara masyarakat Mandailing kepada Melayu dan Jawa yang kedua yaitu faktor psikologis yaitu gangguan ini timbul karena adanya perbedaan gagasan dan penelitian subyektif diantara orang yang terlibat dalam komunikasi. misalnya saja sebagian masyarakat masih ada yang menutup diri dan tidak mau berbaur dengan masyarakat lainnya. Yang ketiga faktor semantik yaitu gangguan ini terjadi seperti kata-kata atau simbol yang digunakan dalam komunikasi, misalnya saja pada saat masyarakat salah mengartikan maksud dari masyarakat lain dikarenakan perbedaan bahasa antar masyarakat.