Analisis Semiotika Roland Barthes pada Akun Instagram @Ajiarchive.Psd
Skripsi ini berjudul "Analisis Semiotika Roland Barthes Pada Akun Instagram @ajiarchive.psd" yang dituliskan oleh Fatan Devrizal dengan NIM 4322023, merupakan mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Akun Instagram @ajiarchive.psd merupakan salah satu ruang publik digital yang secara konsisten memproduksi narasi kritik sosial dan politik di Indonesia melalui karya desain grafis bergaya retro-grunge dan satire. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik yang terkandung dalam representasi kritik sosial pada unggahan tersebut, khususnya pada elemen visual dan tekstual, dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes yang meliputi makna denotasi, konotasi, dan mitos. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan dan dokumentasi terhadap unggahan poster digital di akun Instagram @ajiarchive.psd yang memiliki tingkat interaksi tinggi. Data yang diperoleh dianalisis secara interpretatif menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes untuk mengungkap makna denotasi, konotasi, dan mitos yang merepresentasikan kritik sosial dalam karya visual tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap elemen visual dan tekstual dalam unggahan @ajiarchive.psd memiliki makna kritik yang saling berkaitan. Secara denotasi, unsur-unsur visual dipahami sebagai representasi fisik dari tokoh politik, aparat keamanan, infrastruktur, atau situasi sosial tertentu yang disandingkan dengan teks lugas. Secara konotasi, unsur-unsur tersebut dimaknai sebagai simbol ketimpangan ekonomi, arogansi kekuasaan, kegagalan birokrasi, kerusakan ekologi, serta ironi status warga negara. Sementara itu, pada tataran mitos, karya desain di @ajiarchive.psd merepresentasikan mitos tandingan (counter-myth) yang membongkar pencitraan ideal dan wacana dominan dari institusi negara. Karya-karya visual ini tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi seni desain grafis, tetapi juga sebagai media komunikasi politik alternatif dan sarana perlawanan ideologis yang secara tajam mewakili keresahan kolektif masyarakat sipil.