Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

DINI APRIASTI

1 karya publik ditemukan.

2025: 1

MAKNA TEOLOGI TRADISI PUNGGAHAN DAN PINTAN DALAM MENYAMBUT RAMADHAN PADA ETNIS JAWA DUSUN XI PAYA LOMBANG TEBING TINGGI

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini berjudul "Makna Teologi Punggahan dan Pintan dalam Menyambut Ramadhan pada Etnis Jawa Dusun XI Paya Lombang Tebing Tinggi." Tradisi punggahan dan pintan merupakan bagian dari praktik keagamaan dan budaya yang dilakukan oleh masyarakat Jawa sebagai bentuk persiapan spiritual menjelang Ramadhan. Dalam perspektif teologi, tradisi ini memiliki makna yang mendalam, tidak hanya sebatas ritual turun-temurun, tetapi juga sebagai bentuk komunikasi dengan Tuhan serta manifestasi dari nilai-nilai keagamaan dan sosial dalam kehidupan masyarakat. Latar belakang penelitian ini berangkat dari fenomena keberlanjutan tradisi punggahan dan pintan yang masih dipraktikkan oleh masyarakat Jawa di Dusun XI Paya Lombang, meskipun generasi muda mulai mengalami pergeseran dalam cara mereka memaknai dan melaksanakannya. Melalui tradisi ini, masyarakat berupaya menjaga keharmonisan antara kedekatan dengan Sang Pencipta dan interaksi dengan sesama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan tradisi tersebut serta menggali nilai-nilai teologis yang terkandung di dalamnya bagi masyarakat setempat. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan para informan, serta dokumentasi. Informan dalam studi ini mencakup tokoh adat, pemimpin keagamaan, dan warga yang terlibat aktif dalam tradisi punggahan dan pintan. Seluruh data dianalisis menggunakan pendekatan teologi budaya (theology of culture) yang menelaah keterkaitan antara praktik religius dengan latar budaya dan sosial masyarakat. Proses pelaksanaan punggahan dilakukan dengan cara ziarah kubur, mandi bunga, pemasangan pintan dan doa bersama, serta makan bersama keluarga dan kerabat, yang mencerminkan nilai penghormatan kepada leluhur serta kebersamaan dalam keluarga. Pintan sendiri lebih berfokus pada kegiatan penghormatan dan menekankan pentingnya doa anak saleh sebagai bentuk bakti kepada orang tua yang telah meninggal dunia. Ritual ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya mempersiapkan diri secara fisik, tetapi juga secara spiritual dan sosial dalam menyambut bulan suci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi punggahan dan pintan memiliki makna teologis yang kuat, di antaranya sebagai bentuk rasa syukur, penyucian diri sebelum Ramadhan, penguatan ukhuwah Islamiyah, meningkatkan ketakwaan, sedekah, saling mendoakan, serta mengingat kematian. Tradisi ini tidak hanya bermakna teologis, tetapi juga berfungsi dalam membangun solidaritas sosial serta menjaga kelestarian budaya Jawa yang selaras dengan prinsip-prinsip Islam.