Anxiety dalam Al-Qur'an Perspektif Tafsir Ibnu Katsir
ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Anxiety dalam Al-Qur’an Menurut Perspektif Tafsir Ibnu Katsir” yang disusun oleh Annisa Rahmida Nim 4119028, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD). Pada penelitian ini penulis membahas tentang salah satu penyakit kesehatan mental manusia yang umum terjadi yaitu tentang anxiety atau yang biasa disebut dengan gangguan kecemasan. Di dalam Al-Qur’an telah banyak dicantumkan ayatayat mengenai solusi untuk mengatasi gangguan kecemasan, namun tetap saja tidak mampu mendobrak atau menekan tingkat kecemasan individu dibuktikan dengan penurunan kesehatan mental. Apabila dibiarkan akan menimbulkan bahaya dengan mengganggu fungsi kehidupan. Oleh karena itu butuhnya penelitian tentang anxiety ini yang lebih terfokus kepada perpsektif satu mufassir saja yaitu Ibnu Katsir. Agar nantinya dapat diidentifikasi secara itensif serta menghasilkan kesimpulan yang lebih terarah. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan library reaserch. Metode yang digunakan adalah metode maudhu’i dengan menerapkan beberapa langkah yang dikemukakan oleh Al-Farmawi. Penulis mengumpulkan term-term dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan anxiety. Kemudian mengambil salah satu dari masing-masing term tersebut diantaranya takut (khauf), kesempitan (dhayq), keluh kesah (halu’a) yang kemudian dianalisis bagaimana menurut perspektif tafsir Ibnu Katsir. Penelitian ini mengahasilakan bahwa anxiety yang dimaksudkan dalam AlQur’an menurut perpsektif Ibnu Katsir merupakan hal yang lebih berkaitan dengan kondisi psikis manusia terlepas dari apa yang menjadi faktor penyebab kecemasan terjadi. Maka dari itu solusi untuk mengatasinya adalah dengan memiliki sifat-sifat mulia yaitu sabar, ikhlas, syukur, ridha, tawakkal, dan hidayah. Adapun sifat-sifat mulia tersebut tidak dapat diupayakan dengan akal pikiran anusia saja namun dengan cara memohon dan meminta agar Allah جل جلاله senantiasa menanamkan sifat tersebut agar manusia mampu mengontrol kecemasan dan terbebas dari rasa khawatir. Selanjutnya kestabilan kesehatan mental mampu mengantarkan manusia melakukan ibadah dengan lebih baik lagi.