kesiapan dan hambatan guru bimbingan dan konseling dalam menerapkan kurikulum merdeka di SMAN 3 Padang Panjang
Skripsi ini dibuat oleh Annisa Eka Putri, dengan judul Kesiapan dan Hambatan Guru Bimbingan dan Konseling dalam menerapkan kurikulum merdeka di SMAN 3 Padang Panjang, progam studi Bimbingan dan Konseling fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, 2026. Penerapan kurikulum merdeka di dunia pendidikan membawa perubahan signifikan pada peran guru, terutama pada peran guru BK dalam menjalankan progam kurikulum merdeka yang meliputi penguatan profil pelajar pancasila, serta layanan pengembangan karakter peserta didik. Dalam praktik di sekolah, masih ditemukan beberapa macam tingkat kesiapan guru BK yang meliputi kesiapan pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional serta beberapa hambatan seperti keterbatasan pelatihan, beban administrasi, dan minimnya sarana pendukung. Penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan persiapan guru bimbingan dalam memberikan layanan pada menerapkan kurikulum merdeka dan hambatan yang dialami guru bimbingan dan konseling dalam menerapkan kurikulum merdeka di sekolah. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara dengan informan kunci adalah guru bimbingan dan konseling dan informan pendukung adalah guru TIK. Lokasi penelitian dilaksanakan di SMAN 3 Padang Panjang. Data yang di peroleh dari observasi dan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan tahapan reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperkuat melalui teknik triangulasi data Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa guru BK memiliki kesiapan yang baik dalam menerapkan kurikulum merdeka, terutama dalam memahami prinsip kurikulum merdeka, peran layanan BK dalam mendukung profil pelajar pancasila, dan pelaksanaan asesmen awal terhadap kebutuhan peserta didik. Namun, ada beberapa hambatan yang dialami oleh para guru bimbingan dan konseling seperti kurangnya pemahaman mengenai konsep dari kurikulum merdeka, beban adminsitrasi yang tinggi, kurangnya sarana pendukung seperti perangkat digital, dan juga memerlukan waktu yang panjang dalam pemberian layanan BK kepada peserta didik karena kurikulum merdeka berfokus kepada potensi dari para peserta didik. Selain itu, masih terdapat kebingungan terkait batasan dan peran spesifik guru BK dalam memberikan layanan dengan kegiatan pembelajaran.